BERJEMUR UNTUK AUTOIMUN

BERJEMUR UNTUK AUTOIMUN

Berjemur dan autoimun sangat erat kaitannya. Karena berjemur atau paparan sinar matahari bisa memprofuksi vitamin D dalam tubuh yang mana baisanya orang dengan autoimun mengalami defisiensi vitamin D dalam tubuhnya. Mengenai vitamin D silahkan klik link berikut tentang Vitamin D dan Autoimun.

Berjemur ini ternyata masih banyak membingungkan bagi orang dengan autoimun. Karena banyak yang mengatakan bwah autoimun tidak boleh kena matahari. Ada juga yang mengatakan wajib terkena sinar matahari. Lalu mana yang kita ikuti? Nah kita perlu memahami ketika berjemur kita harus menyesuaikan dengan beberapa hal berikut :

  • Kebutuhan /tujuan apakah untuk kesehatan secara keseluruhan atau untuk produksi vitamin D dalam tubuh
  • Type kulit. Skin tone berbeda, berbeda pula durasi berjemur untuk kita.
  • Kondisi fisik. Apakah tergolong sensitif dengan paparan sinar matahari atau normal

Apapun tujuan berjemur itu, Yang tepat kita menggunakan sebagai acuan adalah UV Index, bukan jam. Karena UV index jam 9 hari ini bisa saja berbeda dengan jam 9 hari kemaren atau jam 9 hari esok.

Berjemur Untuk Autoimun berdasarkan UV index, apakah itu?

UV Index merupakan ukuran kekuatan radiasi ultraviolet. Makin tinggi UV, makin kuat radiasi UV, makin sedikit waktu untuk berjemur, dan makin tinggi risiko kerusakan kulit dan mata. Perubahan UV bervariasi dan sangat dinamis berdasarkan waktu dan lokasi, sehingga kita tidak bisa menggunakan patokan jam untuk berjemur. BMKG menampilkan Tingkatan UV Index dalam angka-angka sebagai berikut :

  • UV Index 1-2 (low): kulit masih aman terpapar matahari tanpa perlindungan
  • UV Index 3-5 (moderate): butuh perlindungan seperti topi atau tutup kepala
  • UV Index 6-8 (high): butuh tambahan tabir surya
  • UV Index melebihi angka 8 (very high): sebaiknya hindari terpapar dalam waktu yang lama
  • UV Index melebihi 11 (extreme): tidak sehat meski dalam waktu singkat.
sumber : www.mdpi.com

Nah kaitannya dengan penyandang autoimun yang kebanyakan mengalami defisiensi vitamin D. Maka kita melakukab berjemur dengan tujuan agar bisa memperbaiki vitamin D dalam tubuh. Maka kita harus tahu bahwa tidak semua UV index berdampak terhadap vitamin D dalam tubuh.

UV Index Yang Bagus Untuk Berjemur.

Paparan sinar matahari pagi, ketika indeks UV sangat rendah, (kurang dari 3) memiliki efek kesehatan yang luar biasa. Ini termasuk mengatur ulang ritme sirkadian (yaitu jam tubuh otomatis yang membuat orang bangun, tidur, dll – saya akan bahas next time), meningkatkan produksi serotonin, menurunkan tekanan darah melalui produksi oksida nitrat dan membantu penurunan berat badan. Meski demikian, stimulasi vitamin D pada kulit bukanlah salah satu efek kesehatan dari UV index yang terlalu rendah.

Menurut informasi yang saya pelajari dari dr.Endi Novianto, SpKK(K) UV index terbaik untuk berjemur kaitanya dengan vitamin D dalam tubuh adalah pada angka 6-8

Menurut sunlight insitute, metode yang mudah kita pakai sebagai orang awam adalah dengan melihat bayangan. Ketika bayangan lebih pendek dari tinggi badan kita saat berjemur, itulah saat terbaik berjemur karena UVB yang memapar tubuh kita akan memproduksi vitamin D.

Lalu apakah berjemur saat uv index belum mencapai 6 salah? TENTU SAJA TIDAK! tidak ada salah dan benar dalam berjemur. Semua tergantung tujuan, Kondisi Fisik (apakah sensitif terhadap pajanan sinar matahari atau tidak) bayi atau dewasa, warna kulit, dan sebagainya.

Bagaimana Cara Cek UV Index?

Untuk cek UV index saat hendak berjemur, berikut panduannya menggunakan aplikasi maupun browsing internet / google.

Berjemur dan autoimun

Jika tujuan berjemur bukan untuk produksi vitamin D, karena kita memiliki kadar vitamin D yang cukup namun untuk tujuan kesehatan secara umum, kita bisa berjemur di UV Index rendah pada angka 1-3. Biasanya pada pagi awal matari terbit. Bagi bayi / anak-anak yang belum mengalami defisiensi vitamin D dan juga khusus bagi yang sensitif dengan paparan sinar matahari pada UV tinggi bisa berjemur pada UV index rendah atau maksimal di moderate 4 dengan menggunakan proteksi pada wilayah muka terutama mata. Jika sama sekali sensitif dan tidak bisa terkena paparan sinar matahari, Sebagai bantuan bisa menggunaka suplemen vitamin D agar vitamin D dalam tubuh tercukupi.

Berjemur Berapa Lama Durasi Yang Tepat?

Setiap orang punya tipe warna kulit atau skin tone yang berbeda-beda. Dan itu adalah hal yang wajar karena perbedaan ras, genetik, dan lainnya. Berikut gambar skin tone menurut FITZPATRICK

Berjemur dan Autoimun

Menggelap dan Terbakar memiliki perbedaan. Kulit yang menggelap adalah kondisi perubahan warna kulit menjadi lebih gelap dari warna semula, namun tidak terbakar. Biasanya karena terpapar matahari dalam waktu yang lama dan tanpa menggunakan pelindung / sun screen.

Terbakar (sunburn) adalah kondisi kulit mengalami luka bakar akibat paparan sinar matahari berlebih. Tanda-tanda sunburn biasanya terjadi setelah 2-6 jam terkena paparan sinar matahari.
Ciri-Cirinya :

  • Berwarna kemerahan
  • Terasa hangat dan perih saat tangan menyentuh kulit muka
  • Gatal
  • Bengkak
  • Melepuh

Dari 6 tipe warna kulit, rata-rata kulit orang Indonesia beserta rekomendasi lamanya berjemur (khususnya jika nilai UV index di angka 6-8)
Tipe III (kuning langsat) maksimal 7-10 menit
Tipe IV (sawo matang) maksimal 15 menit
Tipe V (cokelat tua) maksimal 30 menit
Untuk tipe warna kulit I-II semakin singkat waktunya kurang dari 7 menit. Sedangkan untuk tipe kulit VI maksimal 30 menit

AUTOIMUN DAN BERJEMUR

Untuk tipe warna kulit I-II semakin singkat waktunya kurang dari 7 menit. Sedangkan untuk tipe kulit VI maksimal 30 menit.
Tentu pedoman ini menjadi panduan umum namun pada pelaksanaannya kita harus mengujinya pada tubuh masing-masing dan disesuikan dengan kondisi tubuh serta respon tubuh terhadap paparan sinar matahari.

Bagian Tubuh Mana Yang Sebaiknya Terpapar Sinar ?

Menurut Sunlight Institute, tidak semua bagian tubuh harus terpapar sinar matahari. Jadi sangat tidak perlu untuk menggunakan baju semacam bikini (untuk wanita) atau telanjang dada (bagi pria) jika tujuannya adalah untuk kesehatan.

Menurut Departemen Dermatologi dan Venereologi FKUI-RSCM menyarankan untuk bagian kedua lengan bagian bawah, pungung tangan dan tungkai kaki yang terpapar sinar matahari. Lindungi bagian tubuh lainnya terutama wajah, leher dan mata. Gunakan tabir surya / sun screen dengan spf 30PA++ ketika UV pada angka 3++.

Tabir surba / sun screen berfungsi untuk melindungi kulit supaya tidak terbakar (bukan supaya tidak menggelap) karena paparan sinar matahari dalam kurun waktu tertentu khususnya untuk tipe kulit rata-rata orang Indonesia potensi menggelap sangat mungkin dan wajar.

Ada kondisi tertentu yang memang disarankan untuk menghindari sinar matahari seperti orang dengan risiko kanker kulit, riwayat tranplantasi organ, pengunaan obat tertentu, sensitif terhadap matahari seperti yang dialami sebagian orang dengan kondisi autoimun, dan lainnya. Konsultasikan dengan dokter untuk keamanan dan ujilah respon tubuh masing-masing.

Yuk berjemur bagi kita
yang memungkinkan kondisinya, tapi jangan sampai terbakar yaaa.. Salam sehat selalu.

Kezia Yamamoto
instagram : @keziayamamoto
Youtube :Autoimmune TV

Ditulis oleh
Kezia Yamamoto

Penulis Buku, Survivor dari 3 jenis invisible illness ( Sjogren's Syndrome, fibromialgya dan Tarlov Cyst), Pastor, Shofar Trainer, Internet Marketer, Web Developer.

Melihat semua artikel
Tinggalkan balasan (Isi Nama dan Komentar Saja)

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .
Ditulis oleh Kezia Yamamoto