IT’S OK TO BE NOT OK, BUT DON’T STAY THERE

Tahun 2018 ini bagaimana resolusi atau mungkin impian kita sebagai survivor autoimun? sudah terwujud semua? jika sudah it’s a good news tapi kalo baru sebagaian atau belum sama sekali mari mengevaluasi diri agar tahun depan yang sebentar lagi kita jelang bisa lebih baik. Amin Dalam setahun ini pertanyaan terbanyak yang berkaitan dengan diri saya adalah ” apakah kamu ngga pernah sedih dan kecewa dengan keadaan kamu ” dengan jujur saya berkata PASTI pernah sedih. tidak dalam segala hal tapi pasti ada hal hal tertentu yang membuat saya sedih, dan saya berusaha mencari cara untuk menyatasinya. Salah satu kesedihan saya di tahun 2018 adalah saya dan belum memiliki momongan. banyak cara ditempuh ya doa ya usaha tapi kembali lagi belum waktu Tuhan buat saya. Hal yang paling saya benci dalam setahun ini adalah ke dokter kandungan fetomaternal. sudah bolak balik ganti dokter belum menemukan yang cocok secara komunikasi dan cara mereka mengedukasi saya. Yah berhubung saya berusaha mengerti dan banyak belajar jadi kalo pertanyaan saya ga terpuasakan alias ngambang tu sebel banget ya ngga sih, udah biaya jasa medis mahal, tambah USG tambah cek lab dll jatuhnya muahal banget. tanpa cek lab aja pasti minimal 800.000 buat saya itu besar. abis cek lab cek ini itu balik lagi bayar lagi mahal tapi  belum jelas kenapa sampai sekarang. waktu dulu saya menghadapi sakit sendirian sampai lumpuh ternyata lebih mudah karena saya hanya mikirin diri saya . tapi setelah menikah saya memikirkan juga suami saya jadi lebih sensitif ternyata.

Tahun lalu 3 bulan saya haid tanpa henti dan katanya ga apa-apa dikasih resep nyari nyari dimana mana ga dapet, kan jadi males ya sampe akhirnya berhenti setelah 3 bulan trus udah nih cek ini ono melulu sampe cape hati, cape duit, cape tenaga dan seperti buang waktu bahkan terjadi nih baru kemaren saya ke SpOg dikasitau kalo ada indikasi kelainan karena saya sudah 2 minggu terlambat haid tapi ngga hamil.sementara ciiri ciri fisik mengarah ke hamil (bukan asumsi) itu memamng perkataan dokter bedasar fakta dan to the point tapi merontokkan perasaan banget. pulang dokter masih bisa nahan air mata ketemu rang saya masih biasa saja, saya belajar menahan hati, orang lain ngga perlu tahu kesedihan terdalam saya. tapi sampai di rumah udah ga bisa tahan. dan apa yang saya lakukan ? saya bersujud berdoa sampai nangis kenceng banget 2 jam. kenapa 2 jam? saya memberi waktu kepada diri saya sendiri untuk bersedih. itulah cara saya mengatasi kesedihan meskipun sangat sakit di hati.

Seringkali orang tidak mau mengakui dia kecewa, dia marah, dia sedih, ditimbun dalam hati, bikin makin sakit lalu tiap hari jadi ga ada antusias karna ada yg ngga beres di hati. muka ga bisa senyum happy trus isinya bisa jadi keluhan terus atas keadaan yg dialami. maka penting sekali untuk mengakui. jujurlah pada diri sendiri bahwa kita terluka kita sedih, tapi didik diri kita juga untuk bagus dalam handle emosi. beri waktu bersedih 1-2 jam puas puasin terserah nangis kenceng, doa sambil nangis atau apa ( bukan tindakan membahayakan ) untuk melepas kesedihan. setelah itu cuci muka dan hadapi hidup kembali dengan antusias. ketika saya berdoa sambil menangis dengan kencang suami saya ngga ikut ngomong dia hanya diam memeluk saya. itu bentuk dukungannya buat saya. Dan saya bersyukur untuk itu. Ketika saya mengakui kepada diri saya sendiri, kepada suami saya, dan kepada Tuhan saya sedih disitulah saya perlu kekuatan dari Tuhan untuk menghadapinya. Saya ga pernah berdoa bertanya “kenapa saya harus ngalami ini” tapi saya selalu bertanya “apa yang harus saya usahakan, apa yang harus saya kerjakan sampai saya pulih”

Perkara punya anak saya percaya itu kemahakuasaan Tuhan, perkenanan. Tapi dari sisi manusia bagian kita adalah usaha. ketika dalam usaha itu kita sedih dan lelah, itu ga masalah, manusiawi banget. akui itu dan beri waktu untuk melampiaskan kesedihan. setelah itu selesai, bangunlah dan lanjutkanlah hidup kita kembali. Ketika saya selesai dengan air mata saya kembali mengingat pekerjaan rumah yg harus dikerjakan, kerjaan web yang harus dimaintenance, anjing yang harus dikasih makan, banyaknya WA dan chat dr orang yang nanya info autoimun, dan jadwal jadwal lainnya. disitu saya punya pilihan untuk terus mengurung diri di kamar menangis meratapi nasib atau saya bangkit dan gunakan waktu yang ada sebaik mungkin, dan selalu saya memilih bangkit.

Perjalanan kita sebagai survivor autoimun pasti tidak mudah. Masing-masing dengan hambatannya, ada yang dengan biaya pengobatan yang mahal, ada yang berjuang untuk remisi, atau anda adalah keluarga/pendamping yang berjuang agar yang anda dampingi punya semangat hidup. Semua mengalami kelelahan atau sering hampir menyerah bahkan, it’s ok. kita ada di posisi yang sama, jadi anda tidak sendiri. ngga masalah keadaan kita seperti apa sekarang, tapi pastikan kita tidak stay di situ saja. maju selangkah lebih baik. ayo terus berusaha, ayo terus menata hati karena menurut saya perasaan sangat memegang kendali atas kesehatan kita. semakin kita drop hopeless dan putus asa semakin lama kita bisa meraih yang kita inginkan. Jadi antusiaslah untuk mengejar remisi, untuk terapi, untuk minum obat dengan disiplin, olahraga, dan memberikan encourage kepada orang yang didampingi.

Saya pengen banget semua survivor dan anda yang baca ini bisa lebih bersyukur untuk sepanjang tahun ini. Saya mengalami kesedihan karena setahun belum punya momongan, toh yang lebih lama berdoa dan usaha itu banyak banget dan mereka tetap bahagia dan berdampak hidupnya. Mungkin anda lelah dengan kerjaan dan semua aktifitas coba berpikir banyak koq survivor yang sama sekali ga bisa kerja. Anda mengeluh dengan sakit yang tidak kunjung sembuh, atau kesedihan lainnya yang menumpuk. coba ubah, pikirkan hal sederhana yang masih Tuhan kasih kita untuk nikmati. Masih ada keluarga misal, masih bisa makan, masih hidup dengan baik, masih ada tempat tinggal, masih bisa browsing browsing. hehehe yang pasti jangan tetap di zona sedih, supaya kita bisa punya kehidupan yang lebih baik di 2019.

Ayo mulai buat resolusi 2019. ngga usah banyak banyak daripada ga ada yang kecapai. kan kita energinya terbatas. xixixixi yang gampang gampang aja, contoh sedikit ngutang olahraga ( nih bagi yang males gerak olahraga harusnya 2019 tobat biar makin sehat yaa ) atau misal mulai kurangi nasi dan makanan yg alergi/dipantang, komitmen ga banyak alesan hidup sehat, atau bisa juga reswolusinya unfollow akun akun gosip supaya otaknya ga dipenuhi kepo hidup orang (eh ini penting loh, yang berhubungan dengan mental itu menular, kalo mentalnya jelek suka ngomongin hidup orang, bongkar aib orang itu ntar lama lama kita jadi ikutin) ganti  dengan follow sosial media akun akun kesehatan yang mengedukasi, tokoh yang menginspirasi ( coba anda cek instagram saya, saya follow artis itu cuma 4 yg menurut saya bener bener menginspirasi, ga ada saya follow akun gosip, dan juga ga ada follow orang orang viral kekinian, lebih dominan orang orang yg berjuang dengan sakitnya, yg anaknya sakit tapi fight habis-habisan. buat saya yg begini yg menginspirasi hidup. bukan gosip. So, berdamailah dengan yan gsudah berlalu di tahun 2018. yang sudah berlalu biarlah berlalu, semua kesalahan, kegagalan, kesedihan, air mata. akui semua itu, lalu beri waktu untuk merasakannya nangis itu ngga dosa, sedih itu wajar, saya dan adna bukanlah malaikat. Kita manusia biasa yang bisa berubah kapan saja emosinya, tapi jangan berhenti disitu. Setelah mengakui dan memberi waktu untuk bersedih, bangkit dan lanjutkan hidup kita. Percayalah masing-masing orang punya beban sendiri, jangan merasa paling menderita yaa.

Selamat menyongsong tahun yang baru dengan semangat dan tekad yang kuat. Salam sehat !

Kezia Yamamoto

Ditulis oleh
Kezia Yamamoto

Penulis Buku, Survivor dari 3 jenis invisible illness ( Sjogren's Syndrome, fibromialgya dan Tarlov Cyst), Pastor, Shofar Trainer, Internet Marketer, Web Developer.

Melihat semua artikel
Tinggalkan balasan

Ditulis oleh Kezia Yamamoto