KENALI NYERI TUBUH KITA

Berikut adalah tulisan dari dokter yg menangani saya.  Dr. TCT Novy, Spkfr – pain Clinic, Advent Hospital Bandung.  profile selengkapnya bisa klik Dr. TCT Novy

NYERI?

Nyeri merupakan sensasi yang tidak nyaman (seringkali disertai emosi seperti sedih, marah, khawatir, kecewa dan lain-lain) karena adanya kerusakan jaringan tubuh atau adanya suatu potensi kerusakan pada jaringan tubuh. Nyeri dapat berlangsung akut (kurang dari 3 bulan atau bahkan hanya sekejap), dapat juga berlangsung kronik (lebih dari3 bulan) sehingga seringkali menyebabkan stres yang berkepanjangan.

Mengapa ada nyeri akut dan kronik?

  1. Karena penyebab nyeri yang sangat bervariasi: misalnya kecelakaan atau trauma, cederà olah-raga, infeksi, tumor/kanker, kelainan postur atau bentuk tubuh, posisi kerja yang tidak baik, overuse atau pemakaian bagian tubuh tertentu secara berlebihan, penyakit degeneratif yang pada umumnya berkaitan dengan bertambahnya usia dan atau penyakit lain, yang tentunya memerlukan penanganan yang spesifik dan menyeluruh.
  2. Karena penanganan nyeri yang tidak memadai.
  3. Karena tindakan pencegahan dan peningkatan potensi diri dalam menangani nyeri yang kurang.
  4. Karena masalah biopsikososioekonomi yang menghambat penanganan nyeri.
  5. Dan lain-lain.

Nyeri adalah anugerah.
Dengan adanya nyeri, kita tahu bahwa ada bagian tubuh kita yang memerlukan perbaikan, apakah cukup dengan beristirahat atau harus dengan obat atau terapi rehabilitasi atau harus dengan operasi atau ‘cukup’ dengan manajemen nyeri intervensi yang di dalam dunia kedokteran dinamakan Interventional Pain Management (IPM). Kunjungi dokter spesialis nyeri Anda untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

NYERI PARAH?

Mari mengenali nyeri. Nyeri bersifat subjektif. Seseorang mungkin akan merasakan nyeri yang lebih hebat akibat adanya suatu sumber nyeri, dibandingkan dengan orang yang lain, dan sebaliknya. Hal ini terjadi antara lain karena:

  1. Ambang nyeri yang berbeda.
  2. Pengalaman sebelumnya terhadap nyeri yang tidak sama.
  3. Berbedanya persepsi nyeri seseorang dibandingkan dengan orang lain.
  4. Perbedaan kemampuan menginterpretasikan nyeri.
  5. Adanya penyulit atau penyakit lain yang memperberat.

Penanganan nyeri sangat bergantung pada tingkat atau keparahan nyeri. Namun tidaklah mudah untuk menilai tingkat atau keparahan nyeri. Terdapat berbagai cara untuk menilai tingkat atau keparahan nyeri. Satu di antaranya yang cukup mudah untuk dipakai adalah skala nyeri numerik 0-10, di mana:

0 = Tidak ada rasa nyeri yang dirasakan.
1 = Nyeri ringan atau hampir tidak terasa, dan kadang penderita lupa bahwa dia mengalami nyeri.
2 = Nyeri ringan yang tidak menyenangkan, seperti nyeri ketika dicubit.
3 = Nyeri yang nyata terasa, namun dapat ditoleransi, seperti ketika mendapatkan pukulan di hidung.
4 = Nyeri yang dalam dan kuat, seperti sakit gigi.
5 = Nyeri kuat dalam dan menusuk, seperti saat terkilir.
6 = Nyeri yang intens, yang menyebabkan penderita tidak fokus.
7 = Nyeri yang sangat intens, dan mendominasi sehingga membuat sulit untuk beraktivitas.
8 = Nyeri yang mengerikan, kuat dan termasuk parah.
9 = Nyeri yang menyiksa tak tertahankan.
10 = Nyeri yang tak dapat diungkapkan.

Skala Nyeri dari 0 hingga 10 tersebut di atas dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu:

Skala Nyeri 1-3 = Ringan
Skala Nyeri 4-6 = Sedang
Skala Nyeri 7-10 = Berat

Nyeri ringan: nyeri yang masih bisa ditahan dan tidak mengganggu aktivitas.
Nyeri sedang: nyeri yang menyebabkan aktivitas terganggu.
Nyeri berat: nyeri yang menyebabkan penderita tidak dapat melakukan aktivitas secara mandiri.

Kenali tingkat atau keparahan nyeri Anda! Dengan berbekal penilaian nyeri yang diperoleh dari Anda, dokter spesialis nyeri Anda akan dapat mengobati Anda dengan lebih terarah dan diharapkan maksimal.

dr. TCT Novy, Spkfr – Pain Clinic Advent Hospital Bandung.


Nah saya ( kezia ) menemukan gambar di Internet untuk menggambarkan mengenai nyeri, mungkin bisa lebih mudah dipahami.

 

saya pernah ada di tahap 9-10 di tahun 2016 dan bertahap membaik, sekarang ada di angka 5-6 tergantung aktivitas yang dikerjakan. ketika over kegiatan maka bisa jadi 6 tapi jika tidak sudah di angka 5 dan saya bisa beraktivitas tanpa minum obat apapun. melalui terapi rutin dan mengikuti anjuran dari Dr. TCT Novy , nyeri saya bertahap makin turun.

semoga teman teman bisa memahami di level mana nyeri yg dialami sekarang dan bisa berkomunikasi dg tepat ketika berkonsultasi dengan dokter yang menangani, sehingga bisa berangsur membaik. karena seperti iklan jansen bahwa bebas nyeri adalah hak asasi manusia :-p

 

semoga bermanfaat!

Kezia Yamamoto, S.Kom, M.Th

 

Ditulis oleh
Kezia Yamamoto

Penulis Buku, Survivor dari 3 jenis invisible illness ( Sjogren's Syndrome, fibromialgya dan Tarlov Cyst), Pastor, Shofar Trainer, Internet Marketer, Web Developer.

Melihat semua artikel
Tinggalkan balasan

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .
Ditulis oleh Kezia Yamamoto