Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya. (Amsal 18:21 )

Death and life are in the power of tongue: and they that love it shall eat the fruit thereof. (Proverbs 18:21)

Lidah adalah bagian kecil dari tubuh kita namun punya dampak yang besar. Lidah dalam ayat ini berasal dari bahasa ibrani law-shone yang artinya instrumen untuk menjilat, makan dan bicara. Maka artinya di sini kita harus berhati-hati dengan menggunakan lidah kita. Perhatikan apa yang keluar dan masuk melaluinya. Karena kita pasti memakan buahnya. Apa sajakah itu ?

1. Yang keluar = Perkataan.

Perkataan yang keluar dari lidah kita bisa mempengaruhi kehidupan, baik untuk kita sendiri maupun orang lain. Ketika seorang ibu terus mengutuki anaknya yang tidak bisa berhenti berlarian dengan sebutan “Nakal” terus menerus maka tunggulah sampai besar anaknnya akan betul menjadi anak nakal. Seringkali tidak disadari oleh para orangtua apalagi yang baru menjadi orangtua dan masih dalam usia muda, kurang bisa mengendalikan perkataan. Anak terus mendengar perkataan “Bodoh, nakal, tidak bisa diatur”, bahkan ada yang menyebut nama binatang hanya karena kesal terhadap anaknya.  efeknya sangat buruk, meskipun tidak langsung.  Hari-hari ini kita menghadapi jaman yang penuh dengan kejahatan dan seringkali dipicu dari sebuah perkataan yang menyinggung dan menyakitkan hati sehingga membuat mereka tega dan berani melakukan kejahatan terhadap orang yang mengeluarkan perkataan.  Itu yag hubungannya dengan orang lain, terhadap diri sendiri juga berpengaruh. Contoh ketika kita ikut dalam training oleh Motivator atau live Inspirator mereka pasti akan mengajak kita untuk mengatakan perkataan yang membangun dan positif juga semangat. Tidak pernah mereka mengajarkan peserta mengucapkan kata makian, umpatan apalagi mengeluh. Tujuannya untuk membangun mindset positif. Dan kita bisa merasakan suasana yang berbeda dan lebih powerful ketika dalam ruangan bersama mereka. Masalahnya hidup tidak semudah perkataan para motivator meskipun kita mengikuti training yang mahal biayanya, ketika pulang ke rumah berhadapan dengan berbagai tantangan, satu-satunya jalan yaitu mengendalikan mulut kita, apa yang akan kita katakan, dan ini butuh usaha keras, butuh latihan terus menerus.

Bertahun-tahun hidup dalam kesakitan karena menderita penyakit langka tidak membuat saya mengeluh dan mengutuki badan sendiri. Meskipun sampai lumpuh dan dokter berkata kemungkinan saya tidak bisa berjalan kembali. Tapi saya selalu berkata “Oleh bilur-bilur Kristus Kezia sembuh dan bisa jalan lagi” saya selalu melihat ke cermin dan berkata “Kezia kamu diberkati, kuat, sehat dan akan jadi berkat. Keep fighting!” apakah langsung sembuh dan berjalan? jawabannya TIDAK. Saya masih di kursi roda, masih kesakitan, berlatih dengan air mata dan keringat bercucuran, namun saya belajar tidak mengeluh, tidak menyalahkan keadaan dan siapapun. Lebih baik mengatakan hal yang membangun, mengatakan firman meskipun keadaan tidak terlihat langsung membaik, dari pada mengutuki sedemikian rupa dan mengeluh tapi akhirnya menuai apa yang dikatakan. Dan terbukti saya bisa berjalan kembali setelah 4 bulan lumpuh.

Ketika bersama teman-teman mulai mendirikan Yayasan untuk penyintas autimmune (Sjogren Syndrome Indonesia) saya mulai berhadapan dengan ratusan sampai ribuan penyintas autoimmune berbagai level dan jenis,  ada 3 golongan yang saya bisa simpulkan dari mereka.

  • Yang perkataannya positif dan tidak menyerah dengan keadaan maka cepat mengalami pemulihan
  • Yang tidak menyerah dengan keadaan (usaha) tapi perkataannya negatif, misalnya “dokter TIDAK AKAN menurunkan dosis obat saya karena parah”, “Saya mau mati saja” “Ga bakal sembuh”, “Saya ga punya harapan”, dll kondisinya jelas stuck disitu saja karena usaha nya bagus tapi perkataannya tidak sejalan dengan apa yang dikerjakan.
  • Yang perkataan negatif dan tidak mau usaha apapun lagi, karena merasa sudah menyerah dengan keadaan, percuma buang uang, cape, dll tapi keadaan ga berubah. so what? jadilah seperti yang dikatakan. TIDAK ADA PERBAIKAN APA-APA

Mengertilah bahwa SULIT bukan berarti TIDAK BISA. mungkin hari ini buruk, besok lebih buruk, tapi ketika kita memperkatakan berkat, maka someday it will happen. ketika hanya kata keluhan dan kutukan it will happen too. pikirkanlah dari sekarang apa yang au dikeluarkan dan menguasai kehidupan kita kedepan, dan keluarkanlah hanya perkataan berkat, perkataan yang membangun, memberi semangat.

2. Yang masuk = Makanan

Lidah bukan sekedar bicara perkataan, melainkan juga makanan. Disadari atau tidak kondisi kita saat ini sebagain besar adalah hasil dari makanan kita. ada pepatah berkata you are what you eat. Seperti apa orang akan keliahatan dari makanannya. Kita harus mengendalikan makanan apa yang masuk ke mulut dan mempengaruhi tubuh. Mungkin anda berkata semua boleh, yang penting berdoa. Well sebelum terlalu jauh dengan statement yang sepertinya “Rohani” itu ada baiknya mengingat bahwa Alkitab juga berkata semua baik tapi tidak semua BERGUNA. Jadi banyak makanan yang sebenarnya tidak berguna bagi tubuh, bahkan memperburuk kesehatan. Adalagi yang menganggap bahwa namanya hidup ya dinikmati makan apa saja yang mau dimakan padahal makanan bisa membuat kita semakin sehat atau semakin sakit. Ketika sakit karena makanan apakah kita bisa menikmati hidup ?

Jangan membela diri karena hobby makan kita dengan ayat dan pernyataan rohani padahal kenyatannya makanan bisa membuat kita semakin tidak sehat. saya sudah membuktikannya, ketika menghentikan beberapa jenis makanan kondisi kesehatan saya semakin baik, lalu coba makan lagi maka keadaan saya kembali memburuk. Saya juga sempat menyangka bahwa ngapain pusing-pusing jaga makanan sementara orang lain bebas makan apa saja. Namun ketika keadaan sakit dan ternyata orang tidak ada yang peduli rasanya seperti apa nyeri, muntah, bengkak, dan segala macam rasanya yang tidak enak ketika sakit disitu saya mengerti bahwa pilihan saya adalah untuk hidup saya sendiri. Demikian juga orang lain, ketika memilih makan apapun tanpa pengendalian, merekapun akan menuai hasilnya suatu saat. Semuanya hanya masalah waktu. Jangan jadi pribadi yang suka ikut-ikutan. Tidak semua yang tren kita ikuti dan coba makan, kalau itu tidak sehat kenapa harus dimakan? apakah ada yang membayar ketika kita sakit karena makanan? seringkali hanya karena menuruti nafsu sesaat kita rela melepaskan prinsip dalam menjaga makanan. Kenalilah tubuh masing-masing dan perhatikan makanan apa yang bisa membuat tubuh kita makin sehat.

Hati-hati gunakan lidah kita. Apa yang keluar, yaitu perkataan dan apa yang masuk, yaitu makanan. kedua hal itu akan mempengaruhi kehidupan kita apakah penuh dengan pengharapan dan berkat atau stuck dan tidak ada perubahan positif.

His servant,

– Kezia Yamamoto, S.Kom., M.Th. –

 

 

Ditulis oleh
Kezia Yamamoto

Penulis Buku, Survivor dari 3 jenis invisible illness ( Sjogren's Syndrome, fibromialgya dan Tarlov Cyst), Pastor, Shofar Trainer, Internet Marketer, Web Developer.

Melihat semua artikel
Tinggalkan balasan

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .
Ditulis oleh Kezia Yamamoto