Anda Penyintas Autoimun? ini 7 hal yang bisa dilakukan untuk survive

Autoimmune adalah sebuah kondisi dimana system kekebalan tubuh yang seharusnya berfungsi melindungi tubuh dari virus, bakteri, dll agar tidak mudah sakit mengalami error system sehingga mengalami kebingungan, yang seharusnya dilindungi justru diserang.  Penyakit autoimmune ada puluhan jenis, tergantung area mana yang diserang. Yang sudah umum didengar oleh masayarakat Indonesia adalah Lupus (SLE), namun selain itu ada Rheumathoid Arthritis, Sjogren Syndrome, Diabetes type I, Ideophatic  Thrombosythopenic  Purpura (ITP), Hemolytic Anemia, Multiple Schlerosis, Psoriasis, Graves’ Disease,  Vitiligo, Schleroderma, dan masih banyak lainnya. Meskipun gejalanya berbeda-beda, namun berapa gejala mirip secara umum antara lain.

    • Fatigue (Lelah berlebih yang tidak membaik meskipun sudah istirahat).
    • Brainfog (Pikun sesaat yang berulang).
    • Nyeri sendi.
    • Insomnia atau kesulitan tidur meskipun sudah lelah dan mengantuk.
  • Lebam di beberapa bagian tubuh.

Penyebab pasti belum diketahui, namun ada 3 hal menurut medis yang bisa memicu terjadinya autoimmune yaitu faktor genetika,  obat-obatan, dan lingkungan (paparan kimia dll).

Kurangnya informasi dan edukasi mengenai autoimmune yang kebanyakan masih tergolong ke dalam penyakit langka dan secara medis belum ada obat untuk penyembuhan, namun bukan berarti para penyintas tidak bisa survive.  

Berikut 7 hal yang harus dilakukan agar survive dan tidak kambuhan.

1. Penerimaan Diri.

Menerima bahwa memiliki autoimmune dalam tubuh bukan berarti gembira ria “hore aku sakit autoimmune” namun lebih kepada menerima kenyataan memang menjadi salah satu dari sekian orang yang mengalami penyakit langka itu. Marah, meratapi nasib, mengeluh, menyesali, bertanya “kenapa saya ?, kenapa begini?, kenapa begitu? “ apalagi menyalahkan sesuatu atau seseorang adalah kesia-siaan, karena tidak akan mengubah kenyataan justru memperburuk karena membuang energi, sementara penyintas autoimmune punya energi yang sangat terbatas. Bersyukur saja dengan keadaan yang ada.  Menerima keadaan bukan berarti  diam, setelah penerimaan diri bahwa ada yang tidak beres dalam tubuh, lanjutkan ke langkah berikutnya.

2. Berobat ke Dokter Spesialis yang Tepat.

Khususnya di Indonesia memang masih jarang dokter yang menangani autoimmune, namun bukan berarti tidak ada sama sekali. Autoimmune yang jenisnya ratusan seringkali gejalanya mirip, sehingga berbahaya sekali jika hanya menebak-nebak tanpa berkonsultasi dengan dokter.Kemudian jika diagnose dijatuhkan oleh dokter yang menangani kemudian dokter memberikan obat-obatan namun dalam kurun waktu 6 bulam belum ada perkembangan berarti, ada baiknya mencari second oppinion. Jangan asal menjadi dokter bagi diri sendiri apalagi jika pengetahuan tentang autoimmune sangat minim, percayakan kepada ahlinya dan belajar untuk mentaati anjuran dokter yang menangani. Carilah informasi mengenai dokter yang terdekat dengan wilayah tinggal, jika ternyata ada di luarkota carilah informasi sedetail mungkin terlebih dahulu sebelum datang untuk konsultasi. Cari juga informasi barangkali dokter yang praktek di rumah sakit tertentu bisa menerima BPJS, tujuannya untuk meringankan biaya, mengingat biaya pengobatan bagi penyintas autoimmune sangat tinggi dan belum tentu discover oleh insurance. Berusahalah sebaik mungkin agar dapat berkonsultasi dengan dokter yang memang menguasai bidang autoimmune, karena jika asal-asalan bisa berakibat fatal.

3. Tidak Menghentikan Obat Secara Sembarangan.

Ketika sudah berobat ke dokter, penyintas autoimmune diberi  obat-obatan. disamping obat-obatan lain sesuai jenis spesifik autoimmune yang diderita, biasanya ada beberapa golongan obat yang sama yaitu, steroid, pengurang nyeri, dan vitamin D. penting sekali dalam mengkonsumsi obat sesuai aturan, jangan semau sendiri dan jangan menghentikan secara mendadak, karena khusunya steroid jika dihentikan mendadak bisa fatal. Dosis steroid biasanya dikurangi sedikit demi sedikit, bukan dihentikan mendadak begitu saja. Ketidakpedulian mengenai aturan konsumsi obat akan membuat autoimmune semakin menggila.

4. Pola Makan Sehat Seimbang dan Olahraga

Penyintas autoimmune rentan terhadap allergy dari berbagai hal salah satunya makanan, meskipun biasanya dokter tidak memberikan pantangan makanan, kita perlu sadari bahwa diakui atau tidak makanan bisa membuat kita semakin sakit atau semakin sehat, karena kandungannya sesuai atau tidak dengan kondisi tubuh saat itu, oleh sebab itu beralihlah dari makanan-makanan pemicu yang mengakibatkan tubuh bereaksi negatif misalnya gluten (produk olahan gandum seperti roti, mie), seafood, daging merah, makanan instant, hindari makanan dengan perasa, pewarna, pemanis buatan, hindari vetsin, ganti gula dengan madu asli, ganti nasi putih dengan nasi merah/coklat/hitam. Perbanyak konsumsi air putih, sayur dan buah alami dan usahakan organic supaya tidak mengandung racun bagi tubuh. Kenali tubuh masing-masing dalam menerapkan pola makan sehat dan seimbang. Untuk asupan suplemen juga perlu hati-hati karena banyak iming-iming meningkatkan imun tubuh sementara autoimmune bukan imun rendah tapi imun yang error. Bayangkan jika imun yang kuat diberi penguat imun apa yang akan terjadi? Jika tidak jelas kandungannya baik atau tidak bagi penyintas autoimmune, sebaiknya dihindari, dari pada memperburuk keadaan. Selain makanan, olahraga juga penting, meskipun badan nyeri jangan biarkan mengasai diri sehingga malas olahraga. Justru dengan berolahraga imun system diberi pekerjaan. Mulailah dengan olahraga ringan seperti jogging, renang, yoga, dll yang tidak menuntut kecepatan tinggi. Durasinya bisa ditambah (30 menit sehari) setelah rutin menjalankan olahraga. Olahraga teratur akan membuat tidur lebih berkualitas. Hal-hal alami seperti ini akan sangat membantu meningkatkan kesehatan penyintas autoimmune. Jadikan makanan sebagai obat dan gaya hidup sehat setiap hari. Jika harus membawa bekal ke sekolah, kampus, kantor tidak masalah, jangan malu atau takut untuk berbeda. Yang merasakan sakit adalah diri sendiri jadi jangan pedulikan apa kata negatif dari orang.

5. Manage Waktu Aktifitas.

Tadi sudah dikatakan bahwa energy yang dimiliki oleh penyintas autoimmune sangat terbatas, ibarat semangat 100% namun tenaga kadang hanya 10%, oleh karenanya penting sekali mengatur waktu dalam sehari. Gunakan skala prioritas karena kondisi autoimmune tidaklah sama seperti orang normal, jangan memaksakan diri apapun alasannya. Porsi untuk bekerja, istirahat, olahraga harus diperhitungkan dengan baik. Jika di sela-sela pekerjaan harus rehat sejenak, peregangan karena nyeri,  kenapa tidak? Jangan malu dengan keadaan yang menuntut untuk memperlakukan tubuh secara berbeda. Jika kemungkinan terburuk harus resign kerja karena tidak sanggup menghadapi pekerjaan berat, ya pilihlah usaha sendiri agar lebih produktif. Jaman sekarang teknologi modern sangat membantu penyintas autoimmune untuk tetap produktif dan berkarya misalnya menulis, menjadi guru les, jualan online, dan lain sebagainya. Intinya kenali keadaan tubuh setiap hari sesuaikan dengan aktifitas yang dilakukan.

6. Bergabung Dengan Komunitas.

Orang yang merasa diterima, dianggap dan didengarkan akan bahagia. Hal ini berlaku pula untuk penyintas autoimmune. Kebanyakan kisah para penyintas merasa tidak didukung oleh keluarga atau orang dekat. Masalah ini terjadi sebenarnya karena mereka tidak mengerti kondisi yang dialami oleh penyintas autoimmune yang kompleks dan bisa berubah setiap saat. Sedang semangat tiba-tiba lemah seketika lalu berubah sendiri, tubuh muncul lebam-lebam tanpa sebab yang jelas tentu saja membuat penyintas bingung, bahkan untuk menjelaskannyapun bingung makanya tidak jarang membuat komunikasi dengan orang dekat menjadi bermasalah, Nah jika bertemu dengan yang senasib dalam artian mengerti, mengalami juga apa yang di alami si penyintas maka akan memberi semangat yang baru. You are not alone, meskipun jarang bukan berarti tidak ada orang di luar sana yang memiliki kasus yang sama dengan penyintas. Maka carilah komunitas, dan selidiki terlebih dahulu apakah komunitas itu bebas dari segala macam kepentingan pendirinya. Dengan bergabung dalam komunitas maka akan banyak teman, bisa berbagi cerita, bisa berbagi info dokter dan obat-obatan, bisa bertanya dan bisa belajar bersama. Karena jaman maju menggunakan social media juga untuk komunikasi antar anggota maka info-info terbaru mengenai autoimmune juga bisa didapat dengan cepat. Biasanya sesekali juga ada gathering kebersamaan untuk meningkatkan semangat para penyintas. Jika anda kesulitan dan membutuhkan info komunitas sesuai jenis autoimmune yang diderita, bisa komen di bawah artikel ini, akan dibantu semaksimal mungkin.

7. Melatih Mindset Positif.

Mindset positif sangat perlu dilatih sebagai penyintas autoimmune.  Ketakutan, kesedihan, kemarahan dan stress yang berlebihan saat menghadapi keadaan sangatlah mempengaruhi kesehatan. Meskipun secara medis belum ada obat untuk penyembuhannya bukan berarti tidak ada cara lain untuk pulih. Banyaklah belajar, teruslah berusaha semampu diri agar bisa tetap maksimal dan tetap produktif. Jika langah 1-6 dikerjakan namun mindsetnya negatif, misalnya terus menanamkan dalam pikiran bahwa “sulit sembuh”, “ga bakal lepas obat”, “ga ada jalan lagi”, “susah sakit begini”, “lebih baik mati saja” dan sejenisnya maka tidak akan berarti banyak. Jangan kalah dengan rasa sakit, jangan dikuasai ketakutan akan hari esok yang belum terjadi, meskipun sulit mengubah pola makan dan pola hidup bukan berarti tidak bisa. Berlatihlah mengelola stress dengan keadaan yang mungkin berbeda dari orang normal. Tunjukkan bahwa dengan mengalami hal yang sulitpun  tetap dapat berdiri teguh. Ketika tetap kuat dan bisa melewati masa sulit, nantinya bisa jadi inspirasi bagi orang lain. Ada banyak tokoh di dunia yang mengalami masalah autoimmune dalam tubuhnya namun survive dan bahkan bisa menginspirasi oranglain untuk terus maju di tengah ujian hidup sebagai penyintas. Jika ada satu contoh yang sanggup, maka yang lainpun bisa meneladani.

Anda tidak sendirian, teruslah semangat berjuang, sampai pulih!

– Kezia Yamamoto, S.Kom., M.Th. –

Salah Satu Founder Sjogren Syndrome Indonesia.

Ditulis oleh
Kezia Yamamoto

Penulis Buku, Survivor dari 3 jenis invisible illness ( Sjogren's Syndrome, fibromialgya dan Tarlov Cyst), Pastor, Shofar Trainer, Internet Marketer, Web Developer.

Melihat semua artikel
Tinggalkan balasan

2 comments
  • This condition is quite limited by the reproductive system and might have several causes such as a response to injury or abnormal blood flow in the testicles. Use these circumspectly however, as they may lower blood sugar levels, which is an inadequate effect that face men whose glucose levels are properly balanced.

  • It has in no way been easier to opt between the transportation services, as all
    consumer opinions and testimonials are gathered in anyone part of the country for you to pick the best.
    Bolt bad calibre and as a conclude wretched familiarity by means
    of consulting any paraphrase website reviews.
    Thoroughly written testimonials choice example you during the approach of selecting the one and only change usefulness that
    will spasmodically your needs.

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .
Ditulis oleh Kezia Yamamoto